-->
stack
Selamat Datang di ronentalmedia.blogsport.com, media sharing Nak Bali tentang adat dan budaya Bali serta IT
Artikel Slide Show
print this page
Artikel Terbaru

MEMAKNAI SIWA RATRI SEBAGAI MOMENTUM INTROSPEKSI DIRI

Arti dan Makna Siwalatri :
Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu diharapkan melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Siwaratri merupakan sebuah momentum guna menyadarkan diri akan hakikat kita sebagai manusia yang sesungguhnya mempunyai sinar suci (Siwa) namun kita telah terbelenggu oleh kegelapan duniawi
Jika di urut dari asal katanya, siwa latri terdiri dari kata siwa itu dapat diartikan sebagai terang dan ratri itu dapat diarikan gelap. Jadi Siwaratri dapat diartikan bahwa yang terang telah menjadi gelap dan yang gelap menjadi terang kembali. Siwaratri juga mengandeung arti  Siwa = Tuhan/ Bhatara Siwa; ratri = malam. Atau malamnya Bhatara Siwa/ Tuhan, saat yang tepat bagi manusia untuk merenungi kehidupan di masa lampau serta sadar/ eling pada dosa-dosa yang terlanjur, baik sengaja atau tidak sengaja telah terjadi

Hakekat pelaksanaan Siwalatri
Secara Tatwa sesungguhnya Siwaratri merupakan malam perenungan dosa, (bukan peleburan dosa), dengan tujuan tercapainya kesadaran diri. Siwaratri itu sesungguhnya simbolisasi dan aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual guna tercapainya 'penyatuan' Siwa, yaitu bersatunya atman dengan paramaatman atau Tuhan penguasa jagat raya itu sendiri. Sebagai malam perenungan, umat manusia mestinya melakukan evaluasi atau introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan selama ini. Pada malam pemujaan Siwa ini umat mohon diberi tuntunan agar keluar dari perbuatan dosa.
Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama. Siwaratri mengandung ajaran penyadaran diri manusia tentang dari mana semua makhluk ini berasal, semua makhluk hidup berkembang dan kemudian ke mana mereka lebur. Selanjutnya dengan akal sehat, sebagaimana disiratkan dalam kitab suci, menemukan dirinya sendiri untuk menjawab apakah realitas tertinggi yang menjadi tujuan dan asal-muasal itu ada. Siwaratri merupakan malam yang penuh kesucian (nirmala). Umat manusia memfokuskan seluruh pikirannya kepada Siwa, penguasa jagat raya. Pelaksanaan brata Siwaratri dapat dikatakan sebagai jalan pendakian menuju pembebasan.
 Jadi dapat diluruskan kembali anggapan masyarakat yang mengatakan Bahwa Siwalatri adalah sebagai malam peleburan Dosa itu adalah keliru. Dalam ajaran Hindu tidak ada peleburan dosa, dosa adalah hasil perbuatan (karma) yang harus tetap ditebus oleh akibat (phala). Dalam Siwaratri umat manusia berusaha menyadarkan diri sehingga terhindar dari papa (kegelapan pikiran dan jiwa) seperti yang tertuang dalam puja tri sandya "Om papo'ham papakarmaham papatma papasambhavah" yang pada akhirnya akan menghindarkan manusia dari segala perbuatan dosa
Waktu Pelaksanaan Siwalatri 
Pelaksanaan Hari Raya Siwalatri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu). yaitu sehari sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering di sebut prawaning tilem kapitu tepat pada hari ke-14 paruh gelap, bulan ketujuh (panglong ping 14 sasih kapitu) hal ini mempunyai makna bahwa Prawaning Tilem atau sehari sebelum tilem merupakan malam yang paling gelap dan sasih kepitu merupakan lambang sapta timira, jadi Ida Mpu Kuturan memilih Prawaning Tilem Kepitu sebagai hari perayaan Siwaratri untuk mengingatkan kita bahwa kita yang berasal dari Tuhan (siwa) telah masuk ke jurang kegelapan (ratri) karena pengaruh tujuh sifat kemabukan (pitu). Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa karena pengaruh ikatan duniawi yang kuat manusia telah melupakan asal muasalnya. Karena kuatnya keinginan duniawi maka manusia akan menemuai klesa yaitu kekotoran, menuju ke papa yaitu kegelapan jiwa dan pikiran yang pada akhirya akan bermuara kepada dosa. Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri. Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri.

Nilai Spirit Brata Siwa Latri :
Ada beberapa nilai spirit atau keutamaan Brata Siwalatri adalah sebagai berikut :
Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Siwa Ratri

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Siwaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Siwa Ratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:
”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.

”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*


Sumber sastra atau Itihasa menyangkut Siwa Latri :
Sumber Sastra atau Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parwa, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upawasa pada hari Maha Siwaratri. Rsi Astavakra bertanya:
“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upawasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.
“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.

Kekawin Siwalatri Kalpa Karya mpu tanakung
Konon, pada malam siwaratri, dewa siwa sebagai manifestasi tuhan melakukan yoga. Saat yang bersamaan, dikisahkan seorang pemburu bernama lubdaka kemalaman di hutan dan akhirnya menginap. agar tidak dimakan binatang buas, si lubdaka naik ke pohon dan agar tetap terjaga, sebagai pengusir kantuk, si lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya. Dewa siwa konon sangat senang karena lubdaka terjaga dan ‘menemani’ dewa siwa melakukan yoga. maka ketika lubdaka meninggal, saat dewa yama melakukan pengadilan, datanglah satu utusan  yang dikirim oleh dewa siwa, dan membawa lubdaka ke sorga. padahal, dewa yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi pemburu adalah dosa, membunuhi binatang binatang tak berdosa demi kesenangan. sementara, dewa siwa sudah terlanjur ‘sayang’ dengan lubdaka yang menemaninya suatu malam beryoga, sehingga melakukan intervensi pada putusan dewa yama.
Makna filosofis yang dapat dipetik dari cerita  ini adalah Lubdaka adalah seorang pembunuh binatang namun saat bergadang pada malam Siwaratri sang Lubdaka mendapat sebuah pencerahan dari Tuhan. Sang Lubdaka sebagai pembunuh binatang, hal dapat kita artikan sebagai seseorang yang telah mampu membunuh sifat - sifat kebinatangannya, sehingga saat dia sadar (terjaga / tidak tidur) akan hakikatnya sebagai Siwa (setiap manusia bersumber dari Tuhan / Siwa) yang telah diliputi maya dan kegelapan (ratri) maka saat itulah kesadaran akan kesejatian sebagai seorang manusia mulai bersinar. Dalam cerita para penglingsir kita, Lubdaka juga diartikan sebagai Lud (melepaskan) dan Daki (kekeotoran). Jadi filososis Lubdaka adalah membuang segala kotoran pikiran atau rohani.

Purana - Purana yang membahas Siwa Latri
Siwa Latri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:
Purana yang menjadi landasan perayaan Siwaratri cukup beragam seperti Padma Purana, Siwa Purana, Siwaratrikalpa, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana
Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkan seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva

Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa dengan Wasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka.
 
Tata Cara Pelaksanaan Upacara Siwa Latri :
Brata Siwarâtri terdiri dari:
Utama, melaksanakan:
Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
Jagra (berjaga, tidak tidur).
Madhya, melaksanakan:
Upawasa.
Jagra.
Nista, hanya melaksanakan:
          Jagra.
Monabrata berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai malam (12 jam).
Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih dengan garam dan minum air putih (air tawar tanpa gula).
Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).

Cara Pelaksanaan
  • Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
  • Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
    1. Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
    1. Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
    1. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
    1. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
      - Sang Hyang Siwa.
      - Dewa Samodaya.
      Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya. Rangkaian upacara Siwarâtri, ditutup dengan melaksanakan dana punia.
    1. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
      Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
      Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
      Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
    1. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi.

Demikian Urain singkat tentang Upacara Siwalatri semoga ada Hikmahnya dan bermanfaat bagi kita semua
0 komentar

SEKILAS SEJARAH PURA GUNUNG SALAK

Sebagai oleh – oleh dari Tirta yatra ke Pura Gunung Salak saya mencoba untuk menulis tentang sejarah Pura Gunung Salak , semoga apa yang saya tulis bisa menambah pengetahuan serta dapat dijadikan refrensi yang berharga buat anda. Tulisan yang saya buat ini berasal dari beberapa sumber yang dapat dipercaya . berbicara tentang keberadaan Pura Gunung salak dapat ditinjau dari berapa segi yang antara lain adalah sebagai berikut :


Dari Segi Letak Geografis :
Dilihat dari segi letak geografis Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43′ LS dan 106°44′ BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m di atas permukaan laut.

Dari segi bentuk dan tata ruang bangunan :
Ditinjau dari segi tata bangun ruang Pura Gunung Salak dibangun berdasarkan konsep Tri Mandala yang mana Pura Gunung Salak dirancang sebagai tempat ibadah di ruang terbuka yang terdiri dari beberapa lingkungan yang dikelilingi tembok. Masing-masing lingkungan ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh berukiran indah. Lingkungan yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura Gunung Salak mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya, yakni:
  1. Nista mandala (Jaba pisan): zona terluar yang merupakan pintu masuk pura dari lingkungan luar. Pada zona ini biasanya berupa lapangan atau taman yang dapat digunakan untuk kegiatan pementasan tari atau tempat persiapan dalam melakukan berbagai upacara keagamaan.
  2. Madya mandala (Jaba tengah): zona tengah tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, dan Perantenan.
  3. Utama mandala (Jero): yang merupakan zona paling suci di dalam pura. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.

Meskipun demikian tata letak untuk zona Nista mandala dan Madya mandala kadang tidak mutlak seperti demikian, karena beberapa bangunan seperti Bale Kulkul, atau Perantenan atau dapur pura dapat pula terletak di Nista mandala.

Ditinjau dari segi mitologi :

Belum ada literatur yang bisa memastikan kapan agama Hindu masuk ke wilayah Jawa Barat. Tapi setidaknya telah ditemukan sejumlah bukti peninggalan Kerajaan Hindu di Jawa Barat yakni Tarumanegara dengan rajanya yang terkenal Purnawarman.
Sebagian peninggalan itu diantaranya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Jejak kaki sang raja bahkan tercetak pada sebuah batu yang lalu dikenal sebagai prasasti Ciaruteun.
Jejak kaki Raja Purnawarman ini diibaratkan seperti telapak kaki Dewa Wisnu, salah satu dewa umat Hindu. Di Museum Nasional juga terdapat prasasti Tugu. Prasasti Hindu tertua yang ditemukan di Pulau Jawa.
Dalam prasasti Tugu yang diperkirakan berasal dari tahun 450 Masehi ini misalnya, penunjukkan Prabu Purnawarman dari Tarumanegara pernah memerintahkan penggalian saluran terusan sungai dari Bekasi ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk sistem pengairan dan membuka jalur pelayaran ke pedalaman.

Pada akhir abad ke VII, Kerajaan Tarumanegara diduga hancur takluk pada Kerajaan Sri Wijaya. Baru pada awal abad ke 14 hadir kembali Kerajaan Hindu Sunda yang cukup kuat dibawah kepemimpinan Prabu Siliwangi. Yakni Kerajaan Padjadjaran dengan ibukotanya terletak disekitar Pakuan yang kini dikenal sebagai kota Bogor.
Sayangnya, tidak banyak yang ditinggalkan sang Prabu Sri Paduga Maharaja. Kebanyakan justru tentang mitos yang masih dipercaya hingga kini walau ratusan tahun sudah berlalu. Seperti kemampuannya untuk menghilang atau muksa. Berbagai kesaktian sang prabu ini pula yang jadi latarbelakang berdirinya pura di Gunung Salak.

Dari segi mitologinya Berdirinya pura di Gunung Salak ini bukan tanpa alasan. Karena di sinilah konon kerajaan Hindu tanah Sunda yang termasyur pernah berdiri. Kerajaan Padjadjaran dibawah pemerintahan Prabu Siliwangi. Konon di tanah inilah Prabu Siliwangi sang Raja Padjadjaran yang membawa kemasyuran bagi tanah Sunda pernah berdiam. Bahkan ada yang percaya di tempat ini Prabu Siliwangi menghilang bersama para prajuritnya. Hingga akhirnya sebelum membangun pura, umat Hindu lalu memutuskan untuk membangun terlebih dulu candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan.
Konon, dulu sering ada hal-hal gaib yang terjadi di wilayah ini yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi, raja masyur dari Kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat. Pendirian pura di Gunung Salak yang dipercaya sebagai petilasan Sri Paduga Maharaja Prabu Siliwangi
Tahun 1984 merupakan Tonggak sejarah dimulainya ide pembangunan Pura Gunung Salak, hal ini bermula dari sebuah perasaan mistik seorang tokoh Hindu di Bali bernama Anggawijaya. Ketika itu Angga tengah sembahyang di lereng Gunung Salak ini. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang lain. Aneh, ada daya tarik yang khas begitu terasa. Sulit dikatakan dengan lisan. Dan itu menyebabkan Angga yakin bila di situ cocok menjadi tempat ibadah.

Sejak itu, Angga berangkat ke Bali dan Jakarta. Ia temui sejumlah rekan, baik pemangku (pelayan pura), Pedanda, dan mereka yang bisa merasakan adanya energi di suatu tempat. Akhirnya terkumpul 20 orang tokoh, termasuk Dewa Brata, Gubernur Bali yang waktu itu masih menjabat Sekwilda Bali. Setelah disepakati, mereka berangkat ke tempat Angga dahulu melakukan sembahyang.

Dan benar saja, baru selangkah memasuki lokasi, mereka sudah merasakan adanya energi aneh itu. Mereka pun segera memulai sembahyang dengan posisi setengah lingkaran. Pada tahap inilah mereka baru merasakan energi yang kuat itu benar-benar ada. Setelah itu mereka istirahat. Pukul 00.00, mereka kembali bersembahyang. Mereka berdoa kepada Sang Hyang Widi untuk diberikan tanda yang nyata bila di tempat ini bisa dibangun pura.

Tak berapa lama, keheningan yang tengah berlangsung itu buyar seketika. Sebab tiba-tiba terdengar suara denting besi yang beradu dengan batu. Komang Agung, salah seorang peserta sembahyang, menemukan sebuah keris berukuran sekitar 7 Cm, disisi kiri tempatnya bersila. Menyusul kemudian ditemukan lagi tiga buah permata yang besarnya mencapai satu ruas ibu jari orang dewasa. Warnanya ada yang hijau, merah dan kecoklat-coklatan. Benda-benda gaib itu semua dikubur di tempat berdirinya pura.
Belakangan, panitia pelaksana penyucian leluhur umat Hindu sebumi Parahyangan itu baru tahu bila lokasi mereka semadi tempo hari bukan tempat sembarangan. Masyarakat di sana, maupun tokoh-tokoh spiritual di Bogor juga mengungkap bila tempat itu merupakan petilasan Prabu Siliwangi. Menurut keterangan, di tempat itulah sang prabu dan bala tentaranya moksa. Petilasannya berbentuk batu-batuan hingga kini masih ada di lokasi itu. Konon, pada tahun 1981 silam, tempat tersebut dikenal sebagai Batu Menyan. Batu menyan ini setiap harinya mengeluarkan asap. Konon masyarakat sekitar setiap hari melihat cahaya putih, dan sinar terang dari angkasa, kemudian turun ke batu.

Setelah rangkaian proses yang panjang, disepakatilah di tempat itu untuk didirikan pura. Pemangku pura Gunung Salak, I Nyoman Randeg

Pada Tahun 1995, dimulai dengan membangun sebuah candi disatu titik yang diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, Raja Termasyur dan sangat dipuja. Pembangunan candi tersebut adalah sebagai simbul penghormatan kepada leluhur tanah sunda. Pemerintahan beliau dengan sesanti : “Tata Tentram Kerja Raharja”, telah membawa jaman keemasan bagi Padjadjaran, kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan. Kehidupan masyarakat dijalankan berdasarkan kepada penghormatan ajaran leluhur “Sanghyang Dharma dan Sanghyang Siksa”. Masa jaya ini berlangsung selama masa pemerintahan beliau tahun 1482 -1521, dan dilanjutkan putranya Raja Surawisesa, tahun 1521-1535. Semua ini tertera pada prasasti batu bertulis di jalan batu tulis Bogor, yang dibuat Tahun Saka 1455 atau 1533 SM.
Selama proses pembangunan, untuk sementara pura disebut dengan “Penataran Agung Gunung Salak”. Hingga tahun 2005, atas partisifasi umat baik perorangan maupun institusi/lembaga, panitia berhasil menyelesaikan seluruh pelinggih di utamaning utama dan utama mandala berupa Padmasana, Candi, Anglurah Agung, dua buah Bale Pepelik, Bale Pesamuan Agung, Pengayengan Dalem Peed, Bale Paselang, Pawedan/Bale Gajah, Bale Reringgitan, Bale Panjang dan Panggunan. Demikian juga pelinggih Betari Melanting/Pasar Agung dipandang perlu dibangun sementara, untuk “nedungan Ida “ selama pelaksanaan upacara ngenteg linggih. Di Madya dan Kanista Mandala didirikan berbagai bangunan semi permanen untuk mengdukung yadnya maupun operasional pura selanjutnya.

Dari sejak dirintis pembangunan pura ini merupakan hasil kerja gotong royong umat. Memang belum semua bagian selesai dikerjakan. Namun bangunan pura utama, seperti Pura Padmesana dan Balai Pasamuan Agung dan Mandala Utama segera selesai.
Rencananya pura Gunung Salak ini akan terdiri dari empat area. Misalnya area utama Ning Mandala yang merupakan area suci hingga hanya para pemangku agama yang bisa menjejakan kakinya.Bangunan penting lain adalah Padmesana yang merupakan tempat persemayaman Tuhan serta Balai Pasamuan Agung.

Ditinjau dari segi Pemberian Nama Pura

Paruman Sulinggih
Hari minggu, 11 Juni 2005 disebelah kiri belakang padmasana, dilaksanakan paruman oleh beberapa sulinggih. Beliau adalah para sulinggih yang tinggal menetap di Bali, Bandung, Bogor, Lampung, Tangerang dan Jakarta termasuk dharma adhyaksa PHDI Pusat. Paruman Sulinggih ini menghasilkan empat butir bhisama.
Pertama, pura yang telah dibangun disepakati dengan nama “Parahyangan Agung Jagat Karta”. Ini diambil dari philosofi penciptaan alam semesta, dimana ketika Ida Sanghyang Widhi Wasa menciptakan alam semesta serta menurunkan ajaran Sanghyang Catur Weda, bergelar Sanghyang Jagat Kartta, (lontar Widhi Sastra Catur Yugo-Griya Aan Klungkung), Jawa Barat semasa pemerintahan raja-raja Siliwangi khususnya (tabe pakulun) Prabhu Sri Baduga Maharaja; agama Veda (Hindu) adalah agama kerajaan artinya raja dan rakyat Jawa Barat memeluk agama Hindu, Jawa Barat adalah tempat pertama masuknya ajaran Veda/agama Hindu di Pulau Jawa. Dari Jawa Barat kemudian menyebar ke Jawa Tengah, dan Jawa Timur, selanjutnya terus ke Bali. Untuk Jawa Timur juga ada penyebaran Ajaran Veda/Agama Hindu langsung dari India yang terjadi pada kurun waktu berikutnya. Dikaitkan dengan hal tersebutlah maka pura yang berlokasi di lereng Gunung Salak, dimana didalamnya juga terdapat candi sebagai stana Dewa Hyang Prabhu Siliwangi Shri Baduga Maharaja ini diberi nama “Parahyangan Agung Jagat Kartta”. Wilayah tempat berdirinya pura ini juga dikenal sebagai desa dan sekaligus kecamatan Tamansari di lereng Gunung Salak. Kemudian kata “Tamansari gunung Salak “menjadi kesatuan utuh tak terpisahkan, melekat dengan nama pura, sehingga secara lengkap disebut sebagai “PARAHYANGAN AGUNG JAGAT KARTTA TAMANSARI GUNUNG SALAK”.
Parahyangan berarti tempat Sanghyang Widhi;
Agung berarti besar, mulia;
Jagat berarti bumi;
Kartta berarti lahir, muncul.
Taman sari adalah nama Kecamatan dilereng Gunung Salak, dimana pura ini berada.
Keseluruhan nama tersebut mengandung makna : “pura ini adalah tempat yang indah dan mulia sebagai stana Tuhan Yang Maha Agung, yang berlokasi di Kecamatan Taman sari Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Ditinjau dari segi Upacara/pujawali Di Pura Gunung Salak
Ngenteg Linggih dan Piodalan/Pujawali Pura.
Ditetapkan pujawali pura dilaksanakan pada Purnama sasih ketiga dengan pertimbangan bahwa piodalan pura-pura di wilayah sekitar BANSEJABODETABEK (Bandung, Serang, Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi) umumnya berlangsung pada Purnama Sasih Kapat dan Kelima. Dengan pilihan waktu tersebut, diharapkan umat sekitar dapat meluangkan waktu lebih banyak untuk berpartisipasi di pura. Dengan memperhatikan kesiapan pembangunan phisik, disepakati untuk melaksanakan upacara Ngenteg Linggih pada hari Radite Pon Julungwangi tanggal 18 September 2005. Melihat besarnya bangunan phisik pura maka tingkatan upacara yang digunakan adalah “utamaning utama” yaitu tingkat tertinggi dalam struktur upacara yadnya agama Hindu. Melihat kenyataan bahwa umat yang bersembahyang dan ngayah datang dari berbagai penjuru tanah air maka pura ini diberlakukan sebagai Pura Kahyangan Jagat.
Setelah kurang lebih 10 tahun melaksanakan pembangunan secara bertahap akhirnya Pura Gunung Salak diresmikan berfungsinya dengan upacara Ngenteg Linggih, dimulai dari Purnama Karo, Sukra Pon Kulantir, 19 Agustus 2005 dan berakhir pada Whraspati Wage, Sungsang, 29 September 2005, sedangkan puncak upacaranya, yakni Ngenteg Linggih pada Purnamaning Ketiga, Radite pon julungwangi bertepatan dengan hari Minggu tanggal 18 September 2005. Seluruh rangkaian upacara dipuput oleh para Sulinggih, baik yang didatangkan (dituwur) dari Bali maupun yang sudah lama menetap di Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bandung. Setidaknya tercatat 21 Sulinggih yang terlibat dalam rangkaian upacara ini dibantu puluhan pinandita dari Bansejabodetabek yang tergabung dalam Sanggraha Pinandita Nusantara.bertindak selaku manggala upacara Ngenteg Linggih adalah Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Griya Aan, Klungkung, Bali, yang juga berkenan bertanggung jawab sebagai Manggala Pura.
3 komentar

BEBERAPA PELINGGIH YANG ADA DI MERAJAN

Pelinggih yang ada di Sanggah/merajan dapat di bagi ke dalam beberapa bagian antara lain ;Pelinggih Merajan Kemulan rong Tiga

A. Beberapa Lontar yang membahas tentang Pelinggih rong tiga antara lain
1. Lontar Usana Dewa

Adapun kutipannya adalah sebagai berikut,………..Di Sanggah Kemulan adalah Ida Sang Hyang Atma, di sebelah kanan adalah ayah dalam Paramatmadan sebelah kiri adalah ibu sebagai Siwatma dan di tengah adalah Tri Brahma yang menjadi ibu dan ayah berbadan Sang Hyang Tuduh….

2. Lontar Ging wesi

…………..di bagian kanan ayah adalah Sang Hyang Paratma, dan sebelah kiri adalah ibu sebagai Siwatma dan di tengah adalah menjadi satu dan disebut Sang Hyang Tunggal…..

3. Lontar Purwa Bhumi

…….Jika setelah selesai melakukan Pitra Yadnya,maka wajib mendak nuntun Dewa Pitra dan distanakan di sebelah kanan laki – laki sedangkan untuk Dewa Pitra yang wanita sebelah kiri. Itulah yang disebut denganstana leluhur…

4. Lontar Purwa Bhumi Kamulan

……..Jika setelah melaksanakan sebuah Upacara Pitra Yadnya tidak melakukan pendak tuntun Dewa Pitra maka sang leluhur tersebut tidak mendapat tempat. Inilah yang akan menyebabkan keturunaannya sakit tidak ada habisnya dan tidak akan bias disembuhkan dengan obat apapun sebelum Pitranya mendapatkan tempat yang tetap….

5. Palinggih Utama

Selain Palinggih Mrajan Kemulan Rong Tiga ada beberapa palinggih yang ada di mrajan yang biasanya berfungsi sebagai penghayatan atau panyimpangan .menurut pedoman sastra ada beberapa lontar yang menyebutkan hal tersebut antara lain

6. Lontar Iti Prakerti.

…………….Jika rumah tersebut termasuk rumah sedang dan juga besar, maka membangun tempat bernama sanggah dengan kemulan dan palinggih taksu, atau tugu. Jika palinggihnya ingin ditambah dengan konsep madya, maka ada palinggih lagi bernama Pelik sari dan Gedong. Jika Utamaning nista, ada yang disebut dengan Sapta Lingga yaitu Kemulan, Taksu, Gedong, Tugu, Peliksari, Gedong Catu, dan manjang saluang.
Pada umumnya Umat Hindu di Bali membedakan mrajan dengan sanggah alit melalui jumlah kepala keluarga. Jika 5 – 10 KK bernama sanggah alit, dengan Tri lingga yakni Kemulan, taksu dan Tugu. Jika Mrajan Agung maka jumlah kepala keluarganya 20 KK atau 40 KK dan terdiri dari Panca lingga

7. Lontar Padma Bhuana

Disebutkan mengenai mrajan dengan hulu pekarangan bernama Sanggah Dengen. Juga ada disebutkan plangkiran dengan jumlah rong tiga. Menurut pertemuan wewaran .yang tiada lain adalah stana dari Sanh Hyang Tri Purusha.

8. Lontar Purwa Bhumi Kamulan.

Menurut lontar ini setelah melakukan sebuah Upacara Pitra Yadnya, maka lakukan upacara pendak tuntun DewaPtra, dan diajum dengan menggunakan banten selama dua belas hari dan banyaknya banten sesuai dengan piodalan Dewa

B. Palinggih Pokok yang terdapat di Mrajan

Pelinggih Pokok yang ada di mrajan adalah palinggih kemulan namun dapat ditambah dengan palinggih yang lain seperti taksu. Bangunan pelinggih yang dimaksud adalah sebagai berikut ;

1. Palinggih Kemulan

Bangunan ini adalah sebuah palinggih dengan atap dan rong yang berjumlah tiga, ada juga yang menggunakan tiang (saka) namun aja juga dengan palinggih kemulan jajar, tanpa tiang. Jika diruntun dari konsep Tri Angga maka atap rong tiga adalah utamaning angga, sedangkan tiang adalah madyanya, dan bataran palinggih adalah nistaning angganya. Kayu yang dipergunakan untuk membuat pelinggih biasanya adalah kayu tertentu antara lain ; Kayu Cendana, Kayu Patih penengen, kayu cempaka kuning, majagau, taru pala, kayu sasih, kayu sabho, kayu bhujangga, kayu buni sari, kayu jempinis, kayu bayur, kayu gentawas, kayu cemara, kayu naga sari, sedandkan atapnya biasanya memakai ilalang atau Duk atau genteng.

Palinggih Taksu dibangun dengan atap dan rong satu dengan empat tiang di setiap sudutnyasedangkan posisinya berada di sebelah kanan kemulan menghadap kea rah selatan . ini merupakan stana dari Sang Kala Raja yang memberikan sebuah kewibawaan.

2. Palinggih Ratu Ngurah

Berupa bangunan seperti tugu dengan batu paras, batu cadas atau batu bata dengan rong satu bertempat di sebelah kiri sanggah kemulan, pelinggih ini merupakan stana dari Sang Hyang Catur Sanak yang berfungsi sebagai keamanan secara niskala.

C. Palinggih yang lainnya menyesuaikan dengan kondisi dan situasi mrajan tersebut yang neliputi ;

a. Jika terdapat palinggih panca lingga maka harus dibuatkan pelik sari dan gedong sari

b. Palinggih Sapta Lingga maka harus ada palinggih Panca Lingga dan Juga Gedong Catu serta manjang saluang

c. Eka Dasa Lingga, Sapta Lingga harus diberi palinggih Pasarean, LimasSari, Ratu Ngurah, dan Padma Pangubengan.

d. Palinggih yang lain jika memungkinkan dapat membangun padma sari sebagai Palinggih Pangayat.

Selain dari Palinggih utama tersebut terdapat juga palinggih bangunan seperti Bale singasari, Bale Sambyangan, Bale Panca Resi, Male Murda Manik, Bale Gede, dan juga yang lain sedangkan untuk di bagian barat dibangun tempat yang disebut Piyasan, untuk gedong penyimpenan, dan untuk sang pendeta melakukan Puja.

0 komentar

SANGGAH /MERAJAN MENURUT BEBERAPA LONTAR DI BALI

Beberapa sumber Lontar yang membahas tentang Sanggah atau merajan di Bali adalah sebagai berikut ;

1. Lontar Loka Pala

Dalam lontar ini d terdapat beberapa kutipan yang menyebutkan tentang merajan adalah berbunyi seperti berikut………………..seperti Manusia yang sudah lupa dengan saya.sayalah yang menyebabkan ada mereka, saya tidak lain adalah Sang Hyang Guru Reka, yang mengadakan seluruh isi jagat raya. Sayalah yang dipuja dengan sebutan Dewa Hyang Kawitan yang beraga Sang Hynag Uma Kala, dan saya jugalah yang dipuja dengan Brahma Wisnu dan Siwa. Ingatlah semuanya. Menjadi satu dalam rong tiga, dan sayalah yang mencipta, saya memelihara dan saya juga yang melebur…………………dari kutipan lontar tersebut diatas jika kita pahami maka berbaktilah kepada leluhur lewat merajan dengan rong tiga adalah sebuah keharusan agar kita selamat dan terhindar dari bahaya.

2. Lontar Raja Purana

Dalam lontar ini terdapat beberapa kutipan yang berisikan ajaran mpu kuturan tentang mendirikan mrajan kemulan yang antara lain berbunyi………………………lalu membangun 4 aturan, 4 sebuah kecakapan paribasa, dan juga 4 ajaran yang utamanya terpusat dari sebuah kesusilaan yang dimaksudkan dengan itu tiada lain adalah sanggah kemulan, kahyangan tiga, Pura Dalem, Puseh dan Bale agung……………………..

3. Lontar Padma Bhuwana

Dalam lontar ini dijelaskan bagaimana arti dari mrajan itu sendiri sebagai sebuah tempat untuk memuja kebesaran Tuhan dengan para roh leluhur yang dengan cara seperti itu manusia dapat menikmati sebuah kesejahteraan di bumi.

4. Lontar Bumi Kamaulan

Dalam Lontar ini disebutkan bahwa jika belum menstanakan roh leluhur di mrajan , maka sebuah pitra yadnya ataudewa pitara belumlah selesai berikut kutipannya…………………….Jika membangun tempat suci belum menstanakan roh leluhur, maka itu sama dengan membangun tanpa aturan dan juga sebuah tempat kosong. Sebab Ida Bhatara Kawitan tidak memiliki tempat secara resmi……

5. Lontar Siwa Gama

Dalam lontar ini diuraikan bagaimana keluarga sepatutnya mendirikan sebuah tempat suci . berikut beberapa kutipannya…………………..sejumlah 40 kepala keluarga, harus mendirikan sebuah panti, 20 KK harus mendirikan sebuah Ibu, jika hanya 10 KK hanya mendirikan sebuah pelinggih pratiwi dan setiap rumah wajib mendirikan sebuah sanggah kemulan………

6. Lontar Bhama Krtih, Prakerti

Menurut lontar ini dijelaskan bagaimana tempat suci bernama mrajan itu adalah sebuah tempat untuk memuja kebesaran tuhan dan juga roh leluhur , lengkap dengan tata upacaranya.
Dari seluruh isi lontar tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa Mrajan adalah sebuah tempat suci untuk memuja kebesaran Tuhan yang Maha Esa dan juga para roh leluhur, beserta Dewa Tri Murti yakni Brahma Wishnu, Siwa , seluruhnya adalah sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain dan merupakan sebuah upaya manusia untuk menuju sebuah keadaan yang sejahtera.
0 komentar

SEJARAH DAN TATWA SANGGAH/MERAJAN


Merajan Atau sanggah dalam keluarga Hindu adalah sebuah tempat suci yang berdasarkan konsep Tri mandala, Tri Angga atau Tri Hita Karana merupakan sebuah tempat suci untuk memuja Tuhan dan Juga Roh leluhur
Menurut konsep Tri angga Mrajan adalah tempat utamanya yang Diibaratkan sebagai Kepala, Rumah keluarga dianggap sebagai Badan atau bagian madya sedangkan bagian Nista angga adalah perkebunan atau pekarangan.

Sedangkan menurut konsep Tri Hita Karana mrajan adalah sebuah prahayangan tempat untuk memuja tuhan dan juga roh leluhur menjadi satu. Sebagai satu keselarasan antara orang yang tinggal dan lingkungannya juga diperlukan sebuah tempat untuk melakukan sebuah sinergisme ke atas yang dalam hal ini berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi merajan adalah sebuah tempat suci yang berada disetiap lingkungan keluarga untuk memuja kebesaran Tuhan dan juga roh leluhur.
Menurut Tatwa atau sejarahnya sanggah/mrajan berawal dari jaman Batu kira – kira 2500 tahun SM hingga 500 SM diamana orang bali saat itu telah memiliki keyakinan atau kepercayaan akan roh leluhur .namun media yang digunakan untuk melakukan pemujaan sangatlah sederhana yaitu sebuah tumpukan batu yang sering disebut Menhir dan juga berbagai macam tugu batu.

Setelah kedatangan agama Hindu ke bali tempat pemujaan di bali diubah sesuai dengan konsep yang di bawa orang – orang suci seperti Rsi Markanyeya, Dang Hyang Siddhimantra dan juga Dang Hyang Nirartha dan juga Empat Putra dari Hyang Gni Jaya Barulah dibuatkan sebuah tempat yang bernama mrajan.
Pada tahun 1019 – 1042 Mpu Kuturan datang ke Bali beliaulah yang menyatukan Sembilan sekte yang ada di Bali antara lain Siwa Siddanta, Pasupata, Bhairawa, Waisnawa, Sogata, Brahmana, Rsi, Sora, Surya, Ganapatya menjadi Konsep Tri Murti yaitu sebuah konsep pemujaan kepada Tiga dewa Yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa. Sama Seperti Candi parambanan yang diperuntukkan untuk memuja Brahma, Wisnu dan Siwa.

Dalam Konsep Tri Murti yang terdapat di Prahayangan Jagat dibuatkan tempat suci bernama kahyangan tiga yaitu Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Bale Agung untuk memuja Siwa, Brahma dan juga Wisnu.
Di Mrajan itu sendiri Tri murti dipuja dalam konsep Rong Tiga, Di kanan dilinggihkan Dewa Brahma, Di kiri Dewa Wisnu dan Di tengah Dewa Siwa yang sering disebut dengan Tri Purusa
Ketika Dang Hyang Nirartha datang ke Bali pada Tahun 1540 membawa konsepTri Purusha yaitu pemujaan Sang Hyang tunggal yaitu berupa Bangunan Padmasana.
0 komentar

MENGUNGKAP SEJARAH DAN ASAL USUL TARI BARIS ALOK - ALOK DI DESA PAKRAMAN DUKUH PENABAN, KECAMATAN KARANGASEM

Kita sebagai manusia utamanya di Bali sangat sering melakukan kebiasaan- kebiasaan atau tradisi yang secara turun temurun kita warisi dan kita laksanakan baik dalam bentuk upacara maupun dalam bentuk tarian bahkan dalam bentuk adat istiadat. Namun terkadang kita tidak tahu apa makna , fungsi, sejarah, serta manfaat dari tradisi yang kita laksanakan. Kita baru tersadar setelah orang lain atau suku bangsa bahkan wisatawan menanyakan kepada kita . bertitik tolak dari hal tersebut diatas saya bermaksud mengungkap sedikit demi sedikit tradisi dan kebiasaan yang telah kita warisi baik dalam bentuk tradisi, adat, tarian dan lain – lain dari segi sejarah dan asal muasal terciptanya kebiasaan tersebut.

Pada tulisan kali ini saya bermaksud mengungkap sejarah dan asal usul tari baris alok - alok
Di desa pakraman dukuh penaban, kecamatan karangasem, Kabupaten karangasem.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tari – tarian di Bali menurut fungsinya diklasifikasikan menjadi 3 golongan besar yaitu
  1. Tari Wali (secred Religius Dance) yaitu seni tari yang berfunsi sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara dan upakara agama. Tari ini di lakukan di Pura-pura dan di tempat – tempat yang ada hubungannya dengan upacara agama dan pada umumnya tarian ini tidak menggunakan lakon. Contoh tari wali antara lain ; Tari Rejang, Tari, Sanghyang, Tari Pendet, Tari Baris Gede
  2. Tari Bebali (Ceremonial Dance) yaitu seni tari yang berfungsi sebagai pengiring Upacara atau upakara agama di pura ataupun di luar pura dan pada umumnya tarian ini menggunakan lakon. Contoh tari bebali antara lain ; Seni pewayangan seperti wayang wong, parwa, topeng dan Gambuh.
  3. Tari Balih – balihan (seculer Dance) yaitu Seni tari yang tidak tergolong ke dalam seni tari Wali maupun seni tari Bebali dan pada umumnya tarian ini berfungsi sebagai hiburan. Contoh tari balih – balihan antara lain ; Tari Legong, tari Joged tari Janger
Berdasarkan pengklasifikasian tari di atas maka tari Baris Alok – alok Di Desa Pakraman Dukuh Penaban dapat di golongkan sebagai Tari Wali ( Secred Dance ) karena pada saat pementasannya selalu dipentaskan pada pelaksanaan upacara yadnya dan tariannya tidak menggunakan lakon.

Sejarah Tari Baris Alok – alok berawal dari terjadinya musibah yang dialami oleh warga Banjar adat Penaban, diperkirakan sekitar Tahun 1712 Saka (634 M) hampir sebagian besar warganya dirang wabah penyakit yang mematikan pada saat itu banyak warga banjar adat yang meninggal dunia yang sering disebut penyakit Gerubug. Sebab kejadiannya sangat mengerikan pagi merasa sakit perut, panas tidak berselang lama orang tersebut meninggal dunia, tak jarang dalam satu keluarga meninggal secara bersamaan, sehingga meninmbulkan kepanikan warga manjar adat penaban.

Dari rasa panik tersebutlah maka warga banjar adat penabat memohon petunjuk dan keselamatan kepada Sang Hyang Widhi, dengan menghaturkan sesajen/upakara kehadapan Ida Bhatara Gede Banjar yang berstana di Pura Banjar Penaban. Pada saat upacara tersebut pemangku mendapat petunjuk dari Ida Bhatara agar memanggung pelinggih Ida Bhatara, warga pun menyiapkan sesajen untuk memanggung pelinggilh Ida Bhatara, pada saat sesajen siap dihaturkan, warga segera mengangkat dan mengusung Pelinggih Ida Bhatara untuk ditempatkan ditempat yang ditentukan, tetapi sebelum sampai di tempat tersebut beberapa warga mengalami kesurupan/kelinggihan. Dalam keadaan tidak sadarkan diri mereka menyampaiakan sabda dari Ida Bhatara agar mengawal pelinggih dengan sepasukan /sebarisan pengawal. Dan sebanyak dua belas orangpun menari secara sepontan dengan gerakan sederhana, sambil memutar – mutar sepucuk daun kamboja sebagai perlengkapan menaridan berteriak teriak ….iiiih……uuuuuuh……..iiiiiih untuk mengusir penyakit pada tempat yang telah ditentukan sebagai temppat berstana bagi IdaBhatara Gde Banjar. Warga banjar penaban sangat meyakini bahwa dengan memanggung pelinggih tersebut yang diiringi tarian menyebabkan wabah penyakit bias ditanggulangi dan terbukti sejak saat itu penyakit gerubug berangsur – angsur lenyap dan keadaan normal kembali.

Dengan keyakinan yang begitu besar dari warga banjar adat penabat tari baris alok – alok selalu dipentaskan dengan tujuan memohon anugerah keselamatan dan terhindar dari bala penyakit bagi seluruh warga Banjar Adat Penaban, setelah beberapa tahun kemudian tari Baris Alok – alok dibuatkan busana dan perlengkapan menari yaitu saput kuning, kipas sebagai alat penangkis sebagai pengganti daun kamboja, serta keris yang digunakan sebagai senjata. Sebelum busana tersebut digunakan dilakukan proses ritual dan busana tersebut dikramatkan.

Sekitar tahun 1800-an Tari Baris alok – alaok dipersembahkan kepada Ida Bhatara Gde Munggah Sakti yang berstana di Pura Puseh Dukuh Penaban. Dengan dipersembahkannya tari Alok – alok kehadapan Ida Bhatara Gde Munggah Sakti dan sejak saat itu Tari baris Alok – alok selalu dipentaskan di Pura Puseh Dukuh Penaban.

Dalam Pementasan Tari Baris Alok – alok Banten ( sarana Upakara) yang digunakan yaitu ; Segehan Agung, Prayascita, Durmenggala, Upakara Pemendak.
Adapun fungsi dari masing masing benten tersebut adalah sebagai berikut ; Segehan Agung dipergunakan saat negtegang dan menurunkan atau nedunang busana pengangge yang dipergunakan para penari. Banten Prayascita digunakan bersamaan dengan banten durmanggala yang berfungsi menyucikan orang – orang yang akan menarikan Tari Baris Alok – alok, sehingga terhindar dari kekotoran dan kekeruhan pikiran dan perasaan, dalam menghaturkan digunakan pula air dan dupa sebagai saksi. Banten Pemendak fungsinya sebagai suguhan/labaan kepada pelancah pengiring Ida Bhatara agar tidak mengganggu jalannya upacara yadnya.

Dalam Upacara Piodalan Di Pura Puseh Dukuh Penaban ada empat jenis tarian yang dipentaskan secara berurutan yaitu : tari pembuka Tari Baris Sekar Taman, Kedua Tari Baris Kupu – kupu kuning, ketiga Tari Baris Presi dan Keempat Tari Baris Alok – alok , dalam menarikan tari selalu terdapat komposisi atau susunan gerak paileh adalah sebagai berikut :
Penari tari baris Alok – alok terdiri dari dua belas orang penari yang tampil berjajar berbaris tiga kesamping dan empat leret ke belakang.keluar menari melalui candi bentar di jaba tengah, para pemendak menari dari jeroan Pura menghadap kepadapenari Baris Alok – alok di jaba tengah, dimulai dari yang membawa toya anyar, segehan, klungah arak, tuak, berem. Para pemendak dan penari Baris Alok – alok sama – sama menari dengan mantap. Para penari bergerak dengan gerakan menyantap mangsa dan pembawa pemendak menari dengan gerakkan menyuguhkan.

Gerakan tari baris Alok – alok pada saat menerima pemendak adalah : kaki kanan berada di depan kaki kiri, tangan kanan memegang kipas yang digulung yang diletakkan di depan dada, tangan kiri di ayun ke belakang badan agak dibungkukkan lalu dilanjutkan dengan bersorak : hiiiiih…….huuuuuuh…..hiiiiih….huuuh…. sorakan tersebut mengandung makna tertentu yaitu ; hiih, berarti memanggil Sang Bhuta Kala untuk menerima suguhan/labaan yang berupa tetabuhan seperti sajeng, sajeng rateng, toya anyar, segehan. Huuuh,berarti menghalau sang bhuta kala untuk segera meninggalkan tempat tersebut setelah menerima suguhanagar tidak mengganggu jalannya upacara. Setelah menerima pemendak penari menari kembali sebagian penari yaitu baris pertama dan kedua menuju jeroan pura sedangkan sisanya enam orangpenari tetap menari di jabe tengah pura. Di jeroan pura penari menari dengan posisi yang sama dan menari dengan gerakan yang sama pula.penari menari dengan memutar kipas yang digulung, menghadap ke utara tiga kali pukulan gong dan menghadap ke selatan tiga kali pukulan gong. Setelah menghadap ke utara penari berjongkok menghunus keris selanjutnya mereka menari seperti sedang berperang. Gerakan dilakukan tiga kali pukulan gong mengahdap ke utara dan tiga kali pukulan gong menghadap ke selatanyang diikuti dengan gerakan menyantap mangsa yang disertai sorak para penari hiiih….huuuh….hiiiih….huuuh. setelah itu penari memasukkan keris kembali ke sarungnya. Fase yang terakhir penari kembali dengan gerakan yang pertama dengan gerakan kaki mendengkleng bergantian dan tangan diangkat yang juga bergantian. Bila kaki kanan diangkat, tangan kanan di depan atas, tangan kiri di ayun ke belakang dan seteah sorakan terakhir mereka mengakhiri tariannya.

Demikianlah sekilas asal usul sejarah dari Tari Alok – alok mudah mudahan bias memberikan refrensi bagi kita agar bisa lebih mengenal tari sacral yang ada di bali
Sampai jumla di ulasan tari sacral berikutnya……
0 komentar

MENGETAHUI RAMALAN JODOH LEWAT PRIMBON JODOH

Nasib, Rejeki, Jodoh adalah merupakan karunia dan sekaligus merupakan rahasia terbesar Tuhan pada Umat manusia . Manusia tak dapat menolaknya seandainya dia datang. Namun terkadang manusia selalu kepingin tahu apa yang akan terjadi hingga banyak sekali bermunculan paranormal, Tukang tenung, Peramal, dukun dan sebagainya.
Berbagai Media yang sering digunakan oleh oleh para peramal antara lain ada yang menggunakan kartu, dan ada juga yang menggunakan guratan telapak tangan untuk mengetahui jodoh seseorang.

Tanpa bermaksud untuk mendahului kehendak Tuhan pada posting kali ini saya ingin mengajak para bloger untuk meramal jodoh anda lewat blog saya ini . Adapun media yang saya gunakan adalah Primbon Jodoh. adapun caranya adalah sangatlah gampang :
1. Masukan Nama dan tanggal lahir anda.
2. Masukkan Nama dan tanggal lahir pasangan anda
3. Lalu Klik Submit trus jadi deh



Selamat mencoba semoga ketemu jodohnya.
Posting ini saya buat hanya berupa hiburan buat teman-teman semua. Tidak ada salahnya untuk di baca dan di ketahui, tapi jangan terlalu di anggap serius karena segala sesuatu itu bukan di tangan " sang peramal", Tapi di tangan "Sang Pencipta" dan bagaimana cara anda menyikapinya.
1 komentar

Share

Dapatkan Artikel Terbaru Di Sini
Follow us on:
facebook twitter gplus pinterest rss
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ron Ental Media - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Copyright © and modyfy by