-->
stack
Selamat Datang di ronentalmedia.blogsport.com, media sharing Nak Bali tentang adat dan budaya Bali serta IT
Artikel Slide Show
print this page
Artikel Terbaru

BEBERAPA PELINGGIH YANG ADA DI MERAJAN

Pelinggih yang ada di Sanggah/merajan dapat di bagi ke dalam beberapa bagian antara lain ;Pelinggih Merajan Kemulan rong Tiga

A. Beberapa Lontar yang membahas tentang Pelinggih rong tiga antara lain
1. Lontar Usana Dewa

Adapun kutipannya adalah sebagai berikut,………..Di Sanggah Kemulan adalah Ida Sang Hyang Atma, di sebelah kanan adalah ayah dalam Paramatmadan sebelah kiri adalah ibu sebagai Siwatma dan di tengah adalah Tri Brahma yang menjadi ibu dan ayah berbadan Sang Hyang Tuduh….

2. Lontar Ging wesi

…………..di bagian kanan ayah adalah Sang Hyang Paratma, dan sebelah kiri adalah ibu sebagai Siwatma dan di tengah adalah menjadi satu dan disebut Sang Hyang Tunggal…..

3. Lontar Purwa Bhumi

…….Jika setelah selesai melakukan Pitra Yadnya,maka wajib mendak nuntun Dewa Pitra dan distanakan di sebelah kanan laki – laki sedangkan untuk Dewa Pitra yang wanita sebelah kiri. Itulah yang disebut denganstana leluhur…

4. Lontar Purwa Bhumi Kamulan

……..Jika setelah melaksanakan sebuah Upacara Pitra Yadnya tidak melakukan pendak tuntun Dewa Pitra maka sang leluhur tersebut tidak mendapat tempat. Inilah yang akan menyebabkan keturunaannya sakit tidak ada habisnya dan tidak akan bias disembuhkan dengan obat apapun sebelum Pitranya mendapatkan tempat yang tetap….

5. Palinggih Utama

Selain Palinggih Mrajan Kemulan Rong Tiga ada beberapa palinggih yang ada di mrajan yang biasanya berfungsi sebagai penghayatan atau panyimpangan .menurut pedoman sastra ada beberapa lontar yang menyebutkan hal tersebut antara lain

6. Lontar Iti Prakerti.

…………….Jika rumah tersebut termasuk rumah sedang dan juga besar, maka membangun tempat bernama sanggah dengan kemulan dan palinggih taksu, atau tugu. Jika palinggihnya ingin ditambah dengan konsep madya, maka ada palinggih lagi bernama Pelik sari dan Gedong. Jika Utamaning nista, ada yang disebut dengan Sapta Lingga yaitu Kemulan, Taksu, Gedong, Tugu, Peliksari, Gedong Catu, dan manjang saluang.
Pada umumnya Umat Hindu di Bali membedakan mrajan dengan sanggah alit melalui jumlah kepala keluarga. Jika 5 – 10 KK bernama sanggah alit, dengan Tri lingga yakni Kemulan, taksu dan Tugu. Jika Mrajan Agung maka jumlah kepala keluarganya 20 KK atau 40 KK dan terdiri dari Panca lingga

7. Lontar Padma Bhuana

Disebutkan mengenai mrajan dengan hulu pekarangan bernama Sanggah Dengen. Juga ada disebutkan plangkiran dengan jumlah rong tiga. Menurut pertemuan wewaran .yang tiada lain adalah stana dari Sanh Hyang Tri Purusha.

8. Lontar Purwa Bhumi Kamulan.

Menurut lontar ini setelah melakukan sebuah Upacara Pitra Yadnya, maka lakukan upacara pendak tuntun DewaPtra, dan diajum dengan menggunakan banten selama dua belas hari dan banyaknya banten sesuai dengan piodalan Dewa

B. Palinggih Pokok yang terdapat di Mrajan

Pelinggih Pokok yang ada di mrajan adalah palinggih kemulan namun dapat ditambah dengan palinggih yang lain seperti taksu. Bangunan pelinggih yang dimaksud adalah sebagai berikut ;

1. Palinggih Kemulan

Bangunan ini adalah sebuah palinggih dengan atap dan rong yang berjumlah tiga, ada juga yang menggunakan tiang (saka) namun aja juga dengan palinggih kemulan jajar, tanpa tiang. Jika diruntun dari konsep Tri Angga maka atap rong tiga adalah utamaning angga, sedangkan tiang adalah madyanya, dan bataran palinggih adalah nistaning angganya. Kayu yang dipergunakan untuk membuat pelinggih biasanya adalah kayu tertentu antara lain ; Kayu Cendana, Kayu Patih penengen, kayu cempaka kuning, majagau, taru pala, kayu sasih, kayu sabho, kayu bhujangga, kayu buni sari, kayu jempinis, kayu bayur, kayu gentawas, kayu cemara, kayu naga sari, sedandkan atapnya biasanya memakai ilalang atau Duk atau genteng.

Palinggih Taksu dibangun dengan atap dan rong satu dengan empat tiang di setiap sudutnyasedangkan posisinya berada di sebelah kanan kemulan menghadap kea rah selatan . ini merupakan stana dari Sang Kala Raja yang memberikan sebuah kewibawaan.

2. Palinggih Ratu Ngurah

Berupa bangunan seperti tugu dengan batu paras, batu cadas atau batu bata dengan rong satu bertempat di sebelah kiri sanggah kemulan, pelinggih ini merupakan stana dari Sang Hyang Catur Sanak yang berfungsi sebagai keamanan secara niskala.

C. Palinggih yang lainnya menyesuaikan dengan kondisi dan situasi mrajan tersebut yang neliputi ;

a. Jika terdapat palinggih panca lingga maka harus dibuatkan pelik sari dan gedong sari

b. Palinggih Sapta Lingga maka harus ada palinggih Panca Lingga dan Juga Gedong Catu serta manjang saluang

c. Eka Dasa Lingga, Sapta Lingga harus diberi palinggih Pasarean, LimasSari, Ratu Ngurah, dan Padma Pangubengan.

d. Palinggih yang lain jika memungkinkan dapat membangun padma sari sebagai Palinggih Pangayat.

Selain dari Palinggih utama tersebut terdapat juga palinggih bangunan seperti Bale singasari, Bale Sambyangan, Bale Panca Resi, Male Murda Manik, Bale Gede, dan juga yang lain sedangkan untuk di bagian barat dibangun tempat yang disebut Piyasan, untuk gedong penyimpenan, dan untuk sang pendeta melakukan Puja.

0 komentar

SANGGAH /MERAJAN MENURUT BEBERAPA LONTAR DI BALI

Beberapa sumber Lontar yang membahas tentang Sanggah atau merajan di Bali adalah sebagai berikut ;

1. Lontar Loka Pala

Dalam lontar ini d terdapat beberapa kutipan yang menyebutkan tentang merajan adalah berbunyi seperti berikut………………..seperti Manusia yang sudah lupa dengan saya.sayalah yang menyebabkan ada mereka, saya tidak lain adalah Sang Hyang Guru Reka, yang mengadakan seluruh isi jagat raya. Sayalah yang dipuja dengan sebutan Dewa Hyang Kawitan yang beraga Sang Hynag Uma Kala, dan saya jugalah yang dipuja dengan Brahma Wisnu dan Siwa. Ingatlah semuanya. Menjadi satu dalam rong tiga, dan sayalah yang mencipta, saya memelihara dan saya juga yang melebur…………………dari kutipan lontar tersebut diatas jika kita pahami maka berbaktilah kepada leluhur lewat merajan dengan rong tiga adalah sebuah keharusan agar kita selamat dan terhindar dari bahaya.

2. Lontar Raja Purana

Dalam lontar ini terdapat beberapa kutipan yang berisikan ajaran mpu kuturan tentang mendirikan mrajan kemulan yang antara lain berbunyi………………………lalu membangun 4 aturan, 4 sebuah kecakapan paribasa, dan juga 4 ajaran yang utamanya terpusat dari sebuah kesusilaan yang dimaksudkan dengan itu tiada lain adalah sanggah kemulan, kahyangan tiga, Pura Dalem, Puseh dan Bale agung……………………..

3. Lontar Padma Bhuwana

Dalam lontar ini dijelaskan bagaimana arti dari mrajan itu sendiri sebagai sebuah tempat untuk memuja kebesaran Tuhan dengan para roh leluhur yang dengan cara seperti itu manusia dapat menikmati sebuah kesejahteraan di bumi.

4. Lontar Bumi Kamaulan

Dalam Lontar ini disebutkan bahwa jika belum menstanakan roh leluhur di mrajan , maka sebuah pitra yadnya ataudewa pitara belumlah selesai berikut kutipannya…………………….Jika membangun tempat suci belum menstanakan roh leluhur, maka itu sama dengan membangun tanpa aturan dan juga sebuah tempat kosong. Sebab Ida Bhatara Kawitan tidak memiliki tempat secara resmi……

5. Lontar Siwa Gama

Dalam lontar ini diuraikan bagaimana keluarga sepatutnya mendirikan sebuah tempat suci . berikut beberapa kutipannya…………………..sejumlah 40 kepala keluarga, harus mendirikan sebuah panti, 20 KK harus mendirikan sebuah Ibu, jika hanya 10 KK hanya mendirikan sebuah pelinggih pratiwi dan setiap rumah wajib mendirikan sebuah sanggah kemulan………

6. Lontar Bhama Krtih, Prakerti

Menurut lontar ini dijelaskan bagaimana tempat suci bernama mrajan itu adalah sebuah tempat untuk memuja kebesaran tuhan dan juga roh leluhur , lengkap dengan tata upacaranya.
Dari seluruh isi lontar tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa Mrajan adalah sebuah tempat suci untuk memuja kebesaran Tuhan yang Maha Esa dan juga para roh leluhur, beserta Dewa Tri Murti yakni Brahma Wishnu, Siwa , seluruhnya adalah sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain dan merupakan sebuah upaya manusia untuk menuju sebuah keadaan yang sejahtera.
0 komentar

SEJARAH DAN TATWA SANGGAH/MERAJAN


Merajan Atau sanggah dalam keluarga Hindu adalah sebuah tempat suci yang berdasarkan konsep Tri mandala, Tri Angga atau Tri Hita Karana merupakan sebuah tempat suci untuk memuja Tuhan dan Juga Roh leluhur
Menurut konsep Tri angga Mrajan adalah tempat utamanya yang Diibaratkan sebagai Kepala, Rumah keluarga dianggap sebagai Badan atau bagian madya sedangkan bagian Nista angga adalah perkebunan atau pekarangan.

Sedangkan menurut konsep Tri Hita Karana mrajan adalah sebuah prahayangan tempat untuk memuja tuhan dan juga roh leluhur menjadi satu. Sebagai satu keselarasan antara orang yang tinggal dan lingkungannya juga diperlukan sebuah tempat untuk melakukan sebuah sinergisme ke atas yang dalam hal ini berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi merajan adalah sebuah tempat suci yang berada disetiap lingkungan keluarga untuk memuja kebesaran Tuhan dan juga roh leluhur.
Menurut Tatwa atau sejarahnya sanggah/mrajan berawal dari jaman Batu kira – kira 2500 tahun SM hingga 500 SM diamana orang bali saat itu telah memiliki keyakinan atau kepercayaan akan roh leluhur .namun media yang digunakan untuk melakukan pemujaan sangatlah sederhana yaitu sebuah tumpukan batu yang sering disebut Menhir dan juga berbagai macam tugu batu.

Setelah kedatangan agama Hindu ke bali tempat pemujaan di bali diubah sesuai dengan konsep yang di bawa orang – orang suci seperti Rsi Markanyeya, Dang Hyang Siddhimantra dan juga Dang Hyang Nirartha dan juga Empat Putra dari Hyang Gni Jaya Barulah dibuatkan sebuah tempat yang bernama mrajan.
Pada tahun 1019 – 1042 Mpu Kuturan datang ke Bali beliaulah yang menyatukan Sembilan sekte yang ada di Bali antara lain Siwa Siddanta, Pasupata, Bhairawa, Waisnawa, Sogata, Brahmana, Rsi, Sora, Surya, Ganapatya menjadi Konsep Tri Murti yaitu sebuah konsep pemujaan kepada Tiga dewa Yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa. Sama Seperti Candi parambanan yang diperuntukkan untuk memuja Brahma, Wisnu dan Siwa.

Dalam Konsep Tri Murti yang terdapat di Prahayangan Jagat dibuatkan tempat suci bernama kahyangan tiga yaitu Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Bale Agung untuk memuja Siwa, Brahma dan juga Wisnu.
Di Mrajan itu sendiri Tri murti dipuja dalam konsep Rong Tiga, Di kanan dilinggihkan Dewa Brahma, Di kiri Dewa Wisnu dan Di tengah Dewa Siwa yang sering disebut dengan Tri Purusa
Ketika Dang Hyang Nirartha datang ke Bali pada Tahun 1540 membawa konsepTri Purusha yaitu pemujaan Sang Hyang tunggal yaitu berupa Bangunan Padmasana.
0 komentar

MENGUNGKAP SEJARAH DAN ASAL USUL TARI BARIS ALOK - ALOK DI DESA PAKRAMAN DUKUH PENABAN, KECAMATAN KARANGASEM

Kita sebagai manusia utamanya di Bali sangat sering melakukan kebiasaan- kebiasaan atau tradisi yang secara turun temurun kita warisi dan kita laksanakan baik dalam bentuk upacara maupun dalam bentuk tarian bahkan dalam bentuk adat istiadat. Namun terkadang kita tidak tahu apa makna , fungsi, sejarah, serta manfaat dari tradisi yang kita laksanakan. Kita baru tersadar setelah orang lain atau suku bangsa bahkan wisatawan menanyakan kepada kita . bertitik tolak dari hal tersebut diatas saya bermaksud mengungkap sedikit demi sedikit tradisi dan kebiasaan yang telah kita warisi baik dalam bentuk tradisi, adat, tarian dan lain – lain dari segi sejarah dan asal muasal terciptanya kebiasaan tersebut.

Pada tulisan kali ini saya bermaksud mengungkap sejarah dan asal usul tari baris alok - alok
Di desa pakraman dukuh penaban, kecamatan karangasem, Kabupaten karangasem.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tari – tarian di Bali menurut fungsinya diklasifikasikan menjadi 3 golongan besar yaitu
  1. Tari Wali (secred Religius Dance) yaitu seni tari yang berfunsi sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara dan upakara agama. Tari ini di lakukan di Pura-pura dan di tempat – tempat yang ada hubungannya dengan upacara agama dan pada umumnya tarian ini tidak menggunakan lakon. Contoh tari wali antara lain ; Tari Rejang, Tari, Sanghyang, Tari Pendet, Tari Baris Gede
  2. Tari Bebali (Ceremonial Dance) yaitu seni tari yang berfungsi sebagai pengiring Upacara atau upakara agama di pura ataupun di luar pura dan pada umumnya tarian ini menggunakan lakon. Contoh tari bebali antara lain ; Seni pewayangan seperti wayang wong, parwa, topeng dan Gambuh.
  3. Tari Balih – balihan (seculer Dance) yaitu Seni tari yang tidak tergolong ke dalam seni tari Wali maupun seni tari Bebali dan pada umumnya tarian ini berfungsi sebagai hiburan. Contoh tari balih – balihan antara lain ; Tari Legong, tari Joged tari Janger
Berdasarkan pengklasifikasian tari di atas maka tari Baris Alok – alok Di Desa Pakraman Dukuh Penaban dapat di golongkan sebagai Tari Wali ( Secred Dance ) karena pada saat pementasannya selalu dipentaskan pada pelaksanaan upacara yadnya dan tariannya tidak menggunakan lakon.

Sejarah Tari Baris Alok – alok berawal dari terjadinya musibah yang dialami oleh warga Banjar adat Penaban, diperkirakan sekitar Tahun 1712 Saka (634 M) hampir sebagian besar warganya dirang wabah penyakit yang mematikan pada saat itu banyak warga banjar adat yang meninggal dunia yang sering disebut penyakit Gerubug. Sebab kejadiannya sangat mengerikan pagi merasa sakit perut, panas tidak berselang lama orang tersebut meninggal dunia, tak jarang dalam satu keluarga meninggal secara bersamaan, sehingga meninmbulkan kepanikan warga manjar adat penaban.

Dari rasa panik tersebutlah maka warga banjar adat penabat memohon petunjuk dan keselamatan kepada Sang Hyang Widhi, dengan menghaturkan sesajen/upakara kehadapan Ida Bhatara Gede Banjar yang berstana di Pura Banjar Penaban. Pada saat upacara tersebut pemangku mendapat petunjuk dari Ida Bhatara agar memanggung pelinggih Ida Bhatara, warga pun menyiapkan sesajen untuk memanggung pelinggilh Ida Bhatara, pada saat sesajen siap dihaturkan, warga segera mengangkat dan mengusung Pelinggih Ida Bhatara untuk ditempatkan ditempat yang ditentukan, tetapi sebelum sampai di tempat tersebut beberapa warga mengalami kesurupan/kelinggihan. Dalam keadaan tidak sadarkan diri mereka menyampaiakan sabda dari Ida Bhatara agar mengawal pelinggih dengan sepasukan /sebarisan pengawal. Dan sebanyak dua belas orangpun menari secara sepontan dengan gerakan sederhana, sambil memutar – mutar sepucuk daun kamboja sebagai perlengkapan menaridan berteriak teriak ….iiiih……uuuuuuh……..iiiiiih untuk mengusir penyakit pada tempat yang telah ditentukan sebagai temppat berstana bagi IdaBhatara Gde Banjar. Warga banjar penaban sangat meyakini bahwa dengan memanggung pelinggih tersebut yang diiringi tarian menyebabkan wabah penyakit bias ditanggulangi dan terbukti sejak saat itu penyakit gerubug berangsur – angsur lenyap dan keadaan normal kembali.

Dengan keyakinan yang begitu besar dari warga banjar adat penabat tari baris alok – alok selalu dipentaskan dengan tujuan memohon anugerah keselamatan dan terhindar dari bala penyakit bagi seluruh warga Banjar Adat Penaban, setelah beberapa tahun kemudian tari Baris Alok – alok dibuatkan busana dan perlengkapan menari yaitu saput kuning, kipas sebagai alat penangkis sebagai pengganti daun kamboja, serta keris yang digunakan sebagai senjata. Sebelum busana tersebut digunakan dilakukan proses ritual dan busana tersebut dikramatkan.

Sekitar tahun 1800-an Tari Baris alok – alaok dipersembahkan kepada Ida Bhatara Gde Munggah Sakti yang berstana di Pura Puseh Dukuh Penaban. Dengan dipersembahkannya tari Alok – alok kehadapan Ida Bhatara Gde Munggah Sakti dan sejak saat itu Tari baris Alok – alok selalu dipentaskan di Pura Puseh Dukuh Penaban.

Dalam Pementasan Tari Baris Alok – alok Banten ( sarana Upakara) yang digunakan yaitu ; Segehan Agung, Prayascita, Durmenggala, Upakara Pemendak.
Adapun fungsi dari masing masing benten tersebut adalah sebagai berikut ; Segehan Agung dipergunakan saat negtegang dan menurunkan atau nedunang busana pengangge yang dipergunakan para penari. Banten Prayascita digunakan bersamaan dengan banten durmanggala yang berfungsi menyucikan orang – orang yang akan menarikan Tari Baris Alok – alok, sehingga terhindar dari kekotoran dan kekeruhan pikiran dan perasaan, dalam menghaturkan digunakan pula air dan dupa sebagai saksi. Banten Pemendak fungsinya sebagai suguhan/labaan kepada pelancah pengiring Ida Bhatara agar tidak mengganggu jalannya upacara yadnya.

Dalam Upacara Piodalan Di Pura Puseh Dukuh Penaban ada empat jenis tarian yang dipentaskan secara berurutan yaitu : tari pembuka Tari Baris Sekar Taman, Kedua Tari Baris Kupu – kupu kuning, ketiga Tari Baris Presi dan Keempat Tari Baris Alok – alok , dalam menarikan tari selalu terdapat komposisi atau susunan gerak paileh adalah sebagai berikut :
Penari tari baris Alok – alok terdiri dari dua belas orang penari yang tampil berjajar berbaris tiga kesamping dan empat leret ke belakang.keluar menari melalui candi bentar di jaba tengah, para pemendak menari dari jeroan Pura menghadap kepadapenari Baris Alok – alok di jaba tengah, dimulai dari yang membawa toya anyar, segehan, klungah arak, tuak, berem. Para pemendak dan penari Baris Alok – alok sama – sama menari dengan mantap. Para penari bergerak dengan gerakan menyantap mangsa dan pembawa pemendak menari dengan gerakkan menyuguhkan.

Gerakan tari baris Alok – alok pada saat menerima pemendak adalah : kaki kanan berada di depan kaki kiri, tangan kanan memegang kipas yang digulung yang diletakkan di depan dada, tangan kiri di ayun ke belakang badan agak dibungkukkan lalu dilanjutkan dengan bersorak : hiiiiih…….huuuuuuh…..hiiiiih….huuuh…. sorakan tersebut mengandung makna tertentu yaitu ; hiih, berarti memanggil Sang Bhuta Kala untuk menerima suguhan/labaan yang berupa tetabuhan seperti sajeng, sajeng rateng, toya anyar, segehan. Huuuh,berarti menghalau sang bhuta kala untuk segera meninggalkan tempat tersebut setelah menerima suguhanagar tidak mengganggu jalannya upacara. Setelah menerima pemendak penari menari kembali sebagian penari yaitu baris pertama dan kedua menuju jeroan pura sedangkan sisanya enam orangpenari tetap menari di jabe tengah pura. Di jeroan pura penari menari dengan posisi yang sama dan menari dengan gerakan yang sama pula.penari menari dengan memutar kipas yang digulung, menghadap ke utara tiga kali pukulan gong dan menghadap ke selatan tiga kali pukulan gong. Setelah menghadap ke utara penari berjongkok menghunus keris selanjutnya mereka menari seperti sedang berperang. Gerakan dilakukan tiga kali pukulan gong mengahdap ke utara dan tiga kali pukulan gong menghadap ke selatanyang diikuti dengan gerakan menyantap mangsa yang disertai sorak para penari hiiih….huuuh….hiiiih….huuuh. setelah itu penari memasukkan keris kembali ke sarungnya. Fase yang terakhir penari kembali dengan gerakan yang pertama dengan gerakan kaki mendengkleng bergantian dan tangan diangkat yang juga bergantian. Bila kaki kanan diangkat, tangan kanan di depan atas, tangan kiri di ayun ke belakang dan seteah sorakan terakhir mereka mengakhiri tariannya.

Demikianlah sekilas asal usul sejarah dari Tari Alok – alok mudah mudahan bias memberikan refrensi bagi kita agar bisa lebih mengenal tari sacral yang ada di bali
Sampai jumla di ulasan tari sacral berikutnya……
0 komentar

Share

Dapatkan Artikel Terbaru Di Sini
Follow us on:
facebook twitter gplus pinterest rss
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ron Ental Media - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Copyright © and modyfy by